Philoxenia

”...malah orang asing pun tidak pernah bermalam di luar, pintuku kubuka bagi musafir!”
[i] Salah satu ciri penting Kekristenan yang sekarang mulai pudar akibat gerusan modernitas adalah philoxenia atau ”kasih kepada orang asing”. Di Alkitab Bahasa Indonesia, kata Gerika ini diterjemahkan sebagai “memberi tumpangan”[ii], sedangkan di kebanyakan Alkitab Bahasa Inggris diterjemahkan dengan hospitality. Selain ditulis, dikisahkan dan dianjurkan dengan gamblang di Alkitab, philoxenia juga adalah tradisi yang berakar jauh di dalam budaya Semitik, dimana adalah wajib hukumnya bagi sebuah rumah untuk menjamu dan memberikan tumpangan kepada orang asing yang di dalam perjalanannya mengharuskannya untuk mencari tempat bermalam. Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi mengapa orang-orang percaya cenderung menjadi kurang hospitable terhadap orang asing. Alasan pertama adalah karena manusia belum bisa mengalahkan tabiat dosa yang selalu mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan orang lain. Saat melihat orang asing yang memerlukan sambutan atau bantuan, mereka cenderung mulai berhitung dan hasil kalkulasinyapun pasti bisa ditebak: membantu orang asing tidak membawa keuntungan apa-apa, bahkan justru membawa kerugian. Alasan kedua bersumber dari prasangka sosial. Banyaknya kasus penipuan dan kejahatan dengan berkedok kemiskinan menimbulkan trauma akan pengalaman “diberi hati, mengambil ampela” di dalam membantu orang yang tidak dikenal, belum lagi jika diperkeruh dengan isu primordial. Alasan ketiga adalah perasaan aman dan nyaman yang berlebihan di dalam komunitas orang percaya. Keamanan dan kenyamanan yang demikian menyebabkan kecanggungan di dalam menghadapi orang baru yang “bertamu” ke dalam kelompok mereka. Tanpa disadari dan dimaksudkan, mereka menganggap orang asing tersebut sebagai pengganggu keasyikan berkomunitas mereka. Jika ketiga alasan tersebut terus dipelihara, maka alih-alih menjadi philoxenia, seorang percaya bisa berubah total dan menjadi xenophobia (takut kepada orang asing). Apapun alasan atau pembenarannya, orang percaya harus menetapkan hati untuk menjadi pribadi yang bersedia memperhatikan dan membantu orang yang tidak dikenal. Ketakutan bukanlah dari Tuhan.[iii] Beranilah untuk meminta hikmat dari atas serta nasihat dari sesama jika Anda ragu di dalam memperlakukan orang asing, karena siapa tahu di Sorga nanti Tuhan dengan tersenyum akan menghampiri Anda seraya berkata “Ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan...”[iv] ______________________ [i] Ayub 31:32 [ii] Roma 12:13; 1 Petrus 4:9 [iii] 2 Timotius 1:7 [iv] Matius 25:35

Comments